Opini

Memoriam Jaya Arjuna: Tokoh ‘Ulok’ Medan, Jejak Pendaki Dinanti Bidadari

Akademisi sekaligus pengamat lingkungan, Jaya Arjuna. (Artificial Intelligence)

Desanesia – “Bidadari dari langit sudah menunggu. Pulanglah kepada Tuhanmu, Dia akan meridhai dengan keridhaan-Nya, masuklah menjadi hamba-Nya dan masuklah ke dalam Surga-Nya…”

Kota Medan masih berembun, dikesejukkan subuh pukul 05:10, berhembus kabar duka, Jaya Arjuna sosok yang dikenal dengan kecerdasan dan ketulusan telah berpulang memenuhi panggilan Sang Khalik, Sabtu 3 Januari 2025, Innalilahi wa innailaihi roziuun.

Bagi dua sahabat karibnya, Prof. Martin Roestamy dan Idrus Abdullah, kepergian ini bukan sekadar hilangnya seorang kawan, melainkan tercabutnya satu bagian dari sejarah hidup mereka yang telah terajut selama puluhan tahun.

Idrus Abdullah: Dari TVRI Hingga Podcast “Ulok”

Kenangan tentang Jaya Arjuna, sebuah rekaman panjang yang dimulai sejak tahun 1974. Masa-masa kuliah yang penuh idealisme menjadi fondasi persahabatan mereka.

“Pagi ini, Medan terasa berbeda,” ungkap Idrus dengan nada bergetar.

Ia mengenang bagaimana mereka bersama-sama merintis karier di TVRI Medan, mengisi acara dengan semangat muda.

Persahabatan itu tak pernah luntur oleh waktu; mereka adalah partner diskusi yang tak pernah kehabisan bahan bicara.

Dalam tiga tahun terakhir, kebersamaan mereka semakin intens lewat kanal Podcast “Medan Punya Cerita”.

Di sana, suara Jaya Arjuna masih terngiang, membedah berbagai persoalan dengan gaya khasnya. Bahkan, dalam karya tulis terakhirnya yang berjudul “Ulok”, Jaya masih melibatkan Idrus untuk memberikan pengantar.

“Selamat jalan, Sahabat. Terima kasih telah melibatkanku dalam bab-bab kehidupanmu. Semoga Allah melapangkan kuburmu,” doa Idrus dalam khidmat.

Prof. Martin: Jejak Pendiri dan Pendaki

Prof. Martin Roestamy mengenang Jaya Arjuna sebagai sosok perintis. Mereka adalah bagian dari 11 orang pendiri Kompas USU_bersama Djuharman Arifin dan rekan lainnya_.

Bagi Prof. Martin, Jaya adalah teman seperjuangan dalam menaklukkan medan-medan sulit, baik di alam terbuka saat mendaki gunung maupun dalam dinamika organisasi.

Ikatan yang terbentuk di ketinggian gunung-gunung, menempa persaudaraan yang melampaui batas rekan kerja atau sekadar kawan kuliah.

“Selamat jalan, Sahabat. Bidadari dari langit sudah menunggu. Pulanglah kepada Tuhanmu, Dia akan meridhai dengan keridhaan-Nya, masuklah menjadi hamba-Nya dan masuklah ke dalam Surga-Nya… Aamiin…,” doa Prof. Martin.

Sang, Jaya Arjuna telah menyelesaikan tugasnya di dunia. Ia meninggalkan warisan berupa pemikiran, buku-buku yang menginspirasi, dan jutaan kenangan dalam benak para sahabatnya.

Medan mungkin kehilangan salah satu putra terbaiknya, namun jejak langkah Jaya Arjuna akan selalu hidup dalam setiap diskusi, tulisan, dan doa yang dipanjatkan oleh Prof. Martin, Idrus Abdullah, dan seluruh keluarga besar yang mencintainya. Al-Fatihah.

Penulis: Idrus Abdullah / Prof. Martin Roestamy

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *