Inspirasi Desa

Mimpi dari Sebuah Diary, Diseduh Pelan di Waroeng Bandrek Kopi

Pemilik Waroeng Bako, Yudi Purnama alias Kang Baduy, tengah menyiapkan seduhan kopi. (Desanesia)

Desanesia – Aroma kopi hitam menguar dari balik bar kayu sederhana di sebuah warung di kawasan Cipadung Wetan, Kota Bandung. Di antara deretan stoples kaca berisi biji kopi dengan label beragam proses dan varietas, seorang pria tampak telaten menyiapkan seduhan. Tangannya bergerak perlahan, nyaris tanpa suara, seolah sedang merawat sesuatu yang lebih dari sekadar minuman.

Tempat tersebut bernama Waroeng Bandrek Kopi, atau lebih dikenal Waroeng Bako. Di sini, kopi hitam bukan sekadar pilihan menu, melainkan jati diri. Setiap cangkir yang disajikan membawa kisah panjang tentang kebun, proses pengolahan, dan keberanian untuk bertahan pada jalur yang jarang dipilih, di tengah gempuran tren kopi manis dan susu.

Sosok di balik konsistensi tersebut adalah Yudi Purnama, pemilik Waroeng Bako. Menariknya, perjalanan Yudi di dunia kopi justru tidak berangkat dari kegemaran pribadi. Kedekatannya dengan kopi tumbuh dari sebuah pertemuan yang ia sebut sebagai jodoh—istrinya.

“Sebenarnya Aa enggak suka kopi. Jadi suka kopi karena jodoh,” tutur pria berperawakan gempal yang lebih karib disapa Kang Baduy saat membuka kisahnya.

Minat tersebut tumbuh perlahan, mengikuti kebiasaan sang istri yang gemar menikmati kopi. Yudi pernah mencoba menggali cita-cita istrinya, namun tak pernah mendapat jawaban pasti. Hingga suatu waktu, ia menemukan catatan pribadi istrinya yang menyimpan impian sederhana: memiliki kedai kopi sendiri.

“Pas saya buka diary, ternyata Teteh (istrinya) pengen punya kedai kopi. Akhirnya cita-cita istri itu jadi dream lah (mimpi),” ungkapnya.

Sejak saat itu, mimpi tersebut ia rawat dengan kesungguhan. Yudi mulai belajar mencintai kopi bukan sebagai tren, melainkan tanggung jawab. Ia belajar secara otodidak, mengenali alat seduh satu per satu, membaca referensi daring, lalu mempraktikkannya langsung dengan kopi.

Sebetulnya, kopi bukanlah hal asing bagi Yudi. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah bersentuhan dengan dunia perkebunan. Kebun kopi Arabika di kawasan Sayang Engang, Sumedang, menjadi fondasi utama perjalanan Waroeng Bako. Keputusan membuka kedai kopi merupakan langkah baru yang ia jalani sekitar sepuluh tahun terakhir.

Namun jauh sebelum itu, Yudi yang piawai meracik rempah-rempah sudah lebih dulu menekuni usaha bandrek. Bisnis inilah yang kemudian melahirkan nama Waroeng Bandrek Kopi. Usaha bandrek tersebut bahkan telah ia jalani sejak SMA, dengan resep asli warisan orangtuanya.

Sejak pertama berdiri, Waroeng Bako menetapkan satu sikap: setia pada kopi hitam. Yudi ingin mengubah pandangan tentang kopi yang selalu identik dengan rasa pahit. Ia mengolah kopi hitam dalam berbagai menu supaya bisa dinikmati beragam kalangan usia, tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Menu lain memang tersedia, namun tidak pernah ditempatkan sebagai bintang utama. Kopi manis, kopi gula aren, hingga mocktail khas seperti Bir Sunda hadir sebagai pelengkap. Fokus utama tetap pada kopi hitam, sejalan dengan tujuan awal: menyerap hasil kebun sendiri dan memperkenalkannya secara jujur kepada penikmat kopi.

“Tujuan awal kan untuk mengenalkan kopi yang kita tanam. Kopi yang kita tanam itu Arabica. Ketika bicara kopi Arabica, kita bisa bikin menu minimal tubruk, terus Americano. Kita konsisten di kopi hitam. Jadi etika orang dengar Waroeng Bako, yang diingat itu kopi hitam,” ujarnya.

Dari satu kebun yang sama, Yudi mampu menghadirkan belasan karakter rasa. Ia mengolah biji kopi melalui beragam proses, mulai dari honey, natural, full wash, hingga semi wash. Ia bahkan mengembangkan racikan khas seperti golden honey, metode yang belum banyak dikenal atau diterapkan kedai kopi lain.

Tak berhenti di situ, Yudi juga memiliki dream plot, yakni kebun kecil khusus untuk percobaan single varietas. Yellow Katura, Ateng Super, Tipika, hingga Abisynia ditanam dalam jumlah terbatas, hanya ratusan pohon. Dari kebun kecil tersebut lahirlah produk-produk spesial dengan karakter rasa yang unik, meski berasal dari lahan yang sama.

Secara keseluruhan, Waroeng Bako memiliki sekira 15 hingga 16 varian kopi. Seluruhnya bersumber dari kebun di kawasan Sayang Engang, Tanjung Sari, Sumedang. Bagi Yudi, kekayaan rasa tidak harus berasal dari banyak daerah. Satu kebun pun sudah cukup, asalkan dikelola dengan tepat dan konsisten.

Dengan harga mulai Rp15.000 untuk kopi tubruk hingga Rp30.000 untuk varian spesial, Waroeng Bako mampu menjual rata-rata 60 cangkir per hari. Omzet kotor bulanan berkisar Rp40 hingga Rp50 juta. Namun bagi Yudi, angka hanyalah konsekuensi ketekunan, bukan tujuan utama.

Waroeng Bako buka setiap hari. Senin hingga Kamis melayani pengunjung dari pukul 10.00 hingga 02.00 dini hari, sementara Jumat hingga Minggu beroperasi selama 24 jam. Di Jalan Pertamina Blok L Nomor 1, Cipadung Wetan, Panyileukan, Waroeng Bako bukan sekadar tempat ngopi, melainkan ruang di mana mimpi, kesetiaan, dan kopi hitam dirawat dengan kesabaran, seteguk demi seteguk. [IM]

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *