Supri dan Mimpi dari Desa: Merintis Usaha Lokal yang Menghidupi Warga

Desanesia – Pagi baru saja membuka tirainya di Desa Sindangkempeng, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. Sinar matahari masih menyelinap malu-malu di antara pepohonan, sementara embun bertahan di dedaunan. Namun, di salah satu sudut desa, denyut ekonomi kecil sudah lebih dulu bergerak, digerakkan tangan-tangan yang tak pernah lelah bermimpi.
Di halaman belakang sebuah rumah sederhana, seorang pria tampak sibuk memeriksa hasil panen telur bebek dari kandang yang ia bangun sendiri. Dengan telaten, ia menghitung dan memilah satu per satu. Pria tersebut adalah Supri (39), sosok yang kini dikenal warga sebagai contoh kegigihan membangun usaha dari titik paling awal.
Bagi Supri, beternak bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Ia melihatnya sebagai pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi desa dari skala paling kecil. Dari produksi telur asin hingga budidaya sayuran hidroponik, semua dikelola secara mandiri sebagai perwujudan tekad untuk berdiri di atas kaki sendiri.
“Kalau semua bahan bisa kita hasilkan sendiri, kenapa harus bergantung ke luar?” kata Supri sambil tersenyum, menunjukkan rak telur asin yang siap dipasarkan, Sabtu 20 Desember 2025.
Tak jauh dari rumahnya, sebuah greenhouse sederhana berdiri dengan rangka besi dan plastik bening. Di dalamnya, barisan sayuran hijau tumbuh rapi di dalam pipa-pipa putih. Kehadiran greenhouse bukan hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga ruang belajar kecil yang menarik rasa ingin tahu anak-anak desa, yang kerap datang sekadar melihat atau ikut membantu menyiram tanaman.
“Rasanya bangga kalau bisa panen sendiri. Sayurannya segar, dan orang kampung bisa beli tanpa harus jauh ke kota,” ujar Supri.
Semangat kemandirian yang dibangun Supri tak berhenti pada pertanian dan peternakan. Ia juga menapaki dunia kuliner dengan mendirikan sebuah kafe kecil bernama Kopi Nukami. Bangunannya sederhana, diisi kursi-kursi kayu, dengan aroma kopi hangat yang kini akrab menyambut warga desa.
Perlahan, kafe tersebut tumbuh menjadi ruang perjumpaan. Para pemuda menghabiskan waktu untuk berbincang, ibu-ibu melepas penat dari rutinitas harian, sementara anak-anak menikmati minuman manis dengan harga yang ramah kantong.
Usaha-usaha yang dirintis Supri juga membawa dampak nyata bagi warga sekitar. Enam orang kini terlibat langsung bekerja di peternakan, greenhouse, dan kafe milik Supri, membuka peluang kerja yang sebelumnya sulit mereka dapatkan.
“Alhamdulillah, saya bisa bantu teman-teman yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan,” ucap Supri.
Manfaat lain turut dirasakan masyarakat desa secara luas. Telur asin dan sayuran hidroponik produksi lokal hadir sebagai pilihan pangan sehat yang mudah dijangkau. Bagi Supri, menjalankan usaha bukan sekadar soal keuntungan finansial, melainkan tentang nilai kebermanfaatan.
“Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda desa juga bisa mandiri, memanfaatkan potensi yang ada di sekitar, dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya penuh semangat.
Harapan yang disimpan Supri terbilang sederhana namun bermakna. Ia ingin usaha kecil yang dibangunnya terus bertumbuh, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan menjadikan Desa Sindangkempeng semakin dikenal.
Kisah Supri menjadi potret nyata bahwa mimpi yang berakar dari desa mampu melahirkan harapan besar. Dari telur asin hingga Kopi Nukami, dari kandang bebek hingga greenhouse hidroponik, ia membuktikan bahwa desa bukan hanya tempat tinggal, melainkan ruang tumbuh bagi inovasi, kemandirian, dan masa depan.




